Wisata Akhir Tahun ke Jiuzhaigou

Wisata Akhir Tahun ke Jiuzhaigou

Wisata Akhir Tahun ke Jiuzhaigou – Seusai mendapatkan tiket masuk, saya bersama dua teman seperjalanan langsung melesat ke gerbang utama. Dari kejauhan, antrian rombongan tur domestik mengular. Jiuzhaigou memang wisata primadona di kalangan domestik. Kuota pengunjung per enam bulannya sampai-sampai telah ditetapkan.

Saya kemudian bergegas menumpang hop on hop off bus warna hijau. Dengan bus ini, saya bebas turun di halte mana saja. Dari halte, pelancong hanya perlu berjalan beberapa saat untuk mencapai salah satu objek Jiuzhaigou. Melalui film singkat yang ditayangkan di bus, saya memperoleh pemahaman mengenai taman nasional Provinsi Sichuan, Tiongkok, ini.

Untuk menyusuri tiap objek Jiuzhaigou atau Jiuzhai Valley, saya perlu menumpang hop on hop off bus sejauh 98 kilometer secara keseluruhan. Dan bagi etnis Tibet dan Qiang, dua etnis minoritas Tiongkok yang merupakan penduduk setempat, Jiuzhaigou adalah holy mountain and holy water. Dari balik jendela saya memandangi keberadaan pahatan es dan panorama nan sunyi di sisi kiri dan kanan saya, nuansanya seperti negeri dongeng.

Melihatnya sekilas membuat saya tak meragukan legenda Jiuzhai Valley. Suatu waktu, dewa gunung bernama Dage memiliki rasa cinta yang tak kunjung padam kepada Dewi Wunosemo. Dage pun menghadiahkan cermin ajaib kepada sang dewi. Namun, iblis berniat menculik Dewi Wunosemo. Untuk melindungi dirinya, Dewi Wunosemo melempar cermin itu ke iblis tersebut. Untunglah, Dage datang tepat waktu untuk menyelamatkan Dewi Wunosemo dari iblis yang menyerang sang dewi. Retakan-retakan cermin itulah yang menciptakan danau-danau yang ada. Pada akhirnya, Dage dan Dewi Wunosemo hidup bahagia dan menjadi para pelindung wonderland on Earth ini.

Menyimpulkan apa yang saya lihat, saya tak lagi terkejut mengenai gaung akan daya tariknya. Ya, Jiuzhaigou dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1992. Elevasi berbagai objek Jiuzhaigou semakin menciptakan kesan dramatis. Objek-objek Jiuzhai Valley terletak di ketinggian mulai dari 1.990 meter hingga 4.764 meter di atas permukaan laut. Jadi, sudahkah bersiap menjelajahi Chinese premier national park ini?

Arrow Bamboo Lake
Untuk memulai jelajah Jiuzhaigou, saya menumpang hop on hop off bus dari pintu masuk ke Nuorilang Service Area. Perjalanan itu membutuhkan 15 menit. Sesampai di sana, saya bersama dua teman seperjalanan memutuskan untuk beralih. Kami menaiki bus dari Nuorilang Stop dan mengarah ke Arrow Bamboo Lake, sejauh 18 km ke atas. Kami berpikir ada baiknya untuk menelusuri Jiuzhai Valley dari titik atas. Kami lalu bisa perlahan turun sampai titik terbawah. Arrow Bamboo Lake merupakan tujuan pertama saya di Jiuzhai Valley. Danau setinggi 2.618 meter di atas permukaan laut ini telah terlihat mengesankan dari kejauhan.

Air yang sedemikian jernihnya memantulkan pegunungan bagai lukisan. Langit biru terlihat memancar di danau. Hamparan danau benar-benar jernih dan bersih. Deretan pohon bambu yang ramping pun berada di sekitar Arrow Bamboo Lake. Turis-turis domestik turut mengabadikan rupa Arrow Bamboo Lake bersama saya. Sekalipun udara dingin dan menusuk, para pelancong tetap menghayati panorama memukau ini.

Zechawa Tibetan Village
Jiuzhai Valley bukan hanya danau maupun air terjun, tapi Jiuzhaigou juga memiliki little Tibet. Di Jiuzhaigou, pelancong bisa meresapi budaya Tibet di desa-desa setempat. Saat ini, warga lokal menetap di tujuh dari sembilan desa. Populasinya mencapai seribu jiwa dan terdiri atas 110 keluarga. Desa ini lokasinya dekat sekali dengan pusat genset yanmar solar 10 kva, sehingga warga setempat dirumahnya mempunyai genset.

Biarpun begitu, peradaban manusia telah ditemukan sejak abad 16 sampai 11 SM menurut catatan sejarah. Munculnya corak Tibet di tanah Sichuan bukan serta-merta tanpa alasan. Di tahun 1972, pemerintah Tiongkok menemukan sembilan desa Tibet di tempat ini. Salah satu desa yang bisa dikunjungi yakni Zechawa. Selain itu, bisa juga beralih ke Desa Shuzheng jika ingin lebih hanyut dalam nuansa Tibet. Sebelum menjelajahi Zechawa Tibetan Village lebih lanjut, saya mengamati warna-warna lokal dekat pintu masuk salah satu bangunan. Saya melihat lilitan daging merah terpajang. Selain itu, saya juga mengamati roda doa milik Buddhisme aliran Tibet. Roda-roda ini berbentuk silinder dan warnanya kekuningan.

Roda dua umumnya digerakkan oleh tangan maupun aliran air. Konon, satu putaran roda sama dengan seratus kali memanjatkan doa. Saya kemudian masuk ke salah satu bangunan Zechawa. Di sisi kiri saya terdapat para penjual kain beragam motif, sementara di kanan saya adalah penjual aksesori. Semakin ke dalam, saya memerhatikan rombongan turis sedang mengamati gelang-gelangan maupun kalungan-kalungan. Namun, salah satu sudut bangunan menarik minat saya.

Saya menjumpai tumpukan daging merah, sepertinya yak atau bison, yang dijajakan kepada para pelancong. Di dekat penjual daging merah, saya berpapasan dengan lima pejalan yang sedang beristirahat sambil menikmati bergelas-gelas teh mentega. Teh ini terbuat dari mentega yak, pun menjadi selingan khas. Zechawa menonjolkan warna Tibet, terlihat dari seni berornamen Tibet yang rumit di luar bangunan maupun hiasan di dindingnya.