Waspadai Alergi Akibat Reaksi Obat

Ada berbagai jenis manifestasi alergi obat, dari yang ringan hingga yang mengancam nyawa.

SAAT ini ketersediaan obat di pasar makin melimpah, dan untuk mendapatkannya semakin mudah karena tidak selalu harus membawa resep untuk membeli obat.

Hanya obat- obat tertentu yang harus menggunakan resep, misalnya obat-obatan yang tergolong psikotropika (obat penenang dan obat tidur).

Seiring dengan mudahnya memperoleh obat, semakin sering ditemui kasus-kasus alergi akibat reaksi penggunaan obat yang sembarang.

Manifestasi alergi akibat reaksi penggunaan obat, mulai dari yang ringan, misalnya gatal-gatal dan biduran sampai yang berat mengancam nyawa, misalnya syok anafilaksis dan Steven Johnson Syndrome.

Untuk itu, kemudahan untuk mendapatkan obat tanpa resep, harus disikapi dengan bijak.

Terutama bila kita sendiri punya riwayat alergi atau ada riwayat alergi dalam keluarga. Riwayat alergi tersebut bisa berupa alergi makanan, debu, asma bronchiale, dermatitis atopi, rhinitis alergi, dan lain-lain.

Individu yang punya riwayat alergi cenderung lebih sensitif terhadap bahan-bahan asing yang masuk ke tubuhnya.

Riwayat alergi dalam keluarga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya reaksi alergi pada seseorang.

Manifestasi alergi obat yang ringan, di antaranya urtikaria, atau orang awam menyebutnya biduran.

Gejala klinis urtikaria yaitu terjadi pembengkakan setempat, berwarna pucat kemerahan, meninggi dibandingkan dengan kulit sekelilingnya. Keluhan dari penderita adalah rasa gatal, tersengat, atau tertusuk.

Selain urtikaria, ada juga yang disebut angioedema, yaitu jenis urtikaria yang mengenai lapisan kulit yang lebih dalam, yaitu di subkutis dan di submukosa.

Saluran napas, saluran sistem pencernaan, dan organ kardiovaskular bisa terkena. Gejala klinisnya adalah sesak dan pembengkakan di bibir, dan sekitar mata.

Sementara itu, Fixed Drug Eruption atau Exantema Fixtum, merupakan kelainan kulit yang terjadi akibat reaksi alergi obat yang terjadi berulang-ulang pada tempat yang sama.

Saat serangan akut, biasanya terjadi kemerahan di kulit dan timbul gelembung berisi cairan pada lokasi tertentu.

Lokasi tersering adalah pada sekitar mulut, bibir dan sekitar organ genital. Alergi ini bisa sembuh dengan meninggalkan bekas kulit kehitaman.

Kategori Berat

Untuk alergi kategori berat, ada 3 jenis, dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Yang pertama adalah syok anafilaksis, manifestasi alergi reaksi obat ini bisa mengancam nyawa akibat angioedema yang hebat. Kejadiannya bisa dalam hitungan menit sampai dengan jam.

Pada saluran nafas, gejala klinisnya adalah batuk, suara serak, timbul mengi (wheezing), sesak nafas berat. Pada saluran cerna, gejala yang dialami penderita adalah nyeri perut, diare, dan muntah.

Pada sistem kardiovaskular bisa terjadi serangan jantung, gangguan irama jantung dan henti jantung. Penderita bisa syok dan hilang kesadaran.

Jenis alergi berat kedua, adalah Steven Johnson Syndrome (SJS). Sindrom ini mengenai kulit, selaput lendir pada lubang alami tubuh dan mata dengan keadaan umum penderita yang ringan sampai berat.

Penyebab lebih dari 50% kasus SJS adalah karena alergi obat. Mulainya penyakit, akut dan disertai gejala prodromal berupa demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, nyeri tenggorok.

Setelah itu timbul erupsi kulit berupa kemerahan dan gelembung berisi cairan berbagai macam ukuran yang meluas ke seluruh tubuh. Gelembung tersebut cepat pecah sehingga terjadi erosi yang luas di kulit.

Pada mukosa mulut dan alat genital juga terjadi hal yang sama seperti pada kulit. Kelainan pada mukosa mulut dapat meluas ke saluran makanan dan saluran napas, akibatnya penderita mengeluh sesak dan sukar menelan.

Pada mata, kelainan yang timbul adalah radang selaput konjungtiva mata yang bila terjadi infeksi sekunder, bisa menimbulkan kerusakan mata.

Kasus yang lebih berat dari SJS adalah Toxic Epidermal Necrolysis (TEN). SJS dan TEN termasuk severe cutaneous adverse reactions (SCAR). Baik SJS maupun TEN disebabkan karena bunuh diri sel di kulit (dermal cell apoptosis).

Gejala TEN mirip SJS, namun pada TEN diikuti lepasnya lapisan epidermis kulit yang menyeluruh sehingga mirip dengan penderita luka bakar yang luas.

Kematian biasanya disebabkan oleh gagal sirkulasi, infeksi yang berat, perdarahan saluran cerna, dan gangguan sirkulasi paru.

Penyebab Alergi Obat

Menurut riset, ada beberapa obat penyebab alergi obat (SJS, TEN, SCAR). Misalnya: obat antibiotik cycline, golongan sulfonamid anti-infektif (terutama cotrimoxazole), carbamazepine, phenytoin, phenobarbital, non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) dari tipe –oxicam, allopurinol, chlormezanone, aminopenicillins, cephalosporin, quinolon, nevirapine, lamotrigine, sertraline, fluoxetine, pantoprazole, terbinafine, fluconazole.

Asosiasi kuat antara subtipe antigen leukosit manusia dan reaksi alergi obat (pada kulit) yang berat terutama disebabkan oleh allopurinol dan carbamazepine.

Obat yang berisiko rendah menyebabkan SJS dan TEN adalah beberapa antibiotik (non-sulfonamide anti-infectives) asam asetat NSAID, seperti diklofenak.

Obat yang relatif aman adalah golongan diuretik-terkait sulfonamide, agen antidiabetik, asam valproat.

Baca Juga: 6 Kegunaan Tanaman Sledri

Cermat dan Waspada

Untuk reaksi alergi obat yang ringan, dapat diterapi dengan obat antialergi oral dan pasien bisa berobat jalan.

Sementara untuk reaksi yang berat, penderita harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

Pada kasus TEN, dokter akan memberikan imunoglobulin intravena. Untuk mengendalikan agar TEN tidak bertambah parah, maka diberikan anti-tumour necrosis factor antibody infliximab secara intravena.

Untuk meminimalkan berulangnya reaksi alergi terhadap obat, ada beberapa tips. Bila kita pernah mengalami reaksi alergi terhadap obat, catat nama dan kandungan obat tersebut, simpan di dalam dompet/tas.

Tujuannya bila dalam keadaan darurat dan kita lupa nama kandungan obat tersebut, kita bisa membuka catatan dan memberitahukan pada paramedis yang bertugas.

Baca Juga: Herbal Penumbuh Kumis

Saat menerima resep dan membeli obat, bertanyalah dengan detail apakah obat yang diberikan dokter berpotensi menyebabkan alergi obat.

Bila berobat ke dokter yang belum mengetahui riwayat alergi Anda sebelumnya, sebaiknya segera beritahukan pada dokter supaya catatan riwayat alergi tersimpan dalam rekam medis sehingga dalam tiap peresepan obat, obat tersebut bisa dihindari.

Jika mengalami gejala reaksi alergi obat, segera berobat ke dokter terdekat. Jangan lupa membawa catatan daftar obat yang sedang dan pernah dikonsumsi.

Tujuannya untuk mengidentifikasi kemungkinan obat penyebab reaksi alergi dan untuk menjadi catatan di kemudian hari tentang riwayat alergi obat yang pernah dialami.

Hindari membeli obat secara bebas, sebab pada hakikatnya hampir semua obat berpotensi menyebabkan alergi obat. Jadi, bersikaplah kritis dan bijaksana sebelum mengonsumsi obat.

Sumber: Netsains